Islam Rahmatan lil-'Alamin dan Ikhtiar Membangun Peradaban Berkeadaban di Tengah Masyarakat

Jumat, 18 September 2026 | 00:03:02 WIB

JAKARTA — Pertanyaan mendasar yang perlu terus direnungkan, tulis Ridho, adalah apa yang seharusnya dirasakan manusia dari kehadiran Islam. Jawabannya membawa pada pemahaman bahwa Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga membentuk cara manusia memperlakukan dirinya, sesamanya, dan alam tempat ia hidup.

Al-Qur'an menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Anbiya ayat 107. Ayat itu, menurut Ridho, semestinya tidak berhenti sebagai ungkapan yang kerap terdengar dalam ceramah, melainkan mengandung pesan besar tentang kehadiran Islam dalam kehidupan.

Jika Islam adalah rahmat, maka rahmat itu harus bisa dirasakan. Orang yang sedang kesulitan ekonomi mesti merasakan kepedulian Islam, anak-anak yang tak mampu mengakses pendidikan perlu merasakan perhatian umat, dan masyarakat yang menghadapi ketidakadilan harus menemukan keberpihakan pada nilai keadilan.

Kesalehan yang Bermuara pada Akhlak dan Manfaat

Ridho menegaskan bahwa kesalehan personal tetap dibutuhkan. Shalat, puasa, zakat, membaca Al-Qur'an, dan berbagai ibadah lain merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.

Namun, ia mengajukan pertanyaan lanjutan: ke mana semua kesalehan itu bermuara? Menurutnya, kesalehan yang baik semestinya membentuk akhlak, akhlak tercermin dalam perilaku, dan perilaku baik seharusnya memberi manfaat kepada lingkungan sekitar.

Seseorang yang rajin beribadah tidak seharusnya kehilangan kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Mereka yang memahami agama semestinya semakin menghargai ilmu, dan yang mendapat amanah kekuasaan seharusnya semakin memahami tanggung jawab.

"Islam harus hidup dalam tindakan, bukan hanya dalam ucapan," tulis Ridho.

Membangun Tradisi Ilmu, Bukan Sekadar Bernostalgia

Ridho mengingatkan bahwa Islam sejak awal memiliki hubungan kuat dengan ilmu pengetahuan. Wahyu pertama dimulai dengan perintah Iqra', bacalah. Pesan itu dinilainya sangat relevan dengan tantangan umat Islam hari ini.

Membangun peradaban tidak cukup dengan membicarakan kejayaan masa lalu. Diperlukan tradisi ilmu yang hidup: membaca, meneliti, berdiskusi, berpikir kritis, menciptakan teknologi, dan melahirkan gagasan baru.

Kemiskinan, lanjutnya, tidak cukup dijawab dengan ceramah tentang kesabaran. Dibutuhkan pendidikan, lapangan pekerjaan, pemberdayaan ekonomi, dan kebijakan yang tepat. Ketertinggalan juga tidak cukup dijawab dengan nostalgia tentang masa ketika dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan.

"Sebab peradaban tidak dibangun dengan nostalgia. Peradaban dibangun oleh manusia yang mau belajar, bekerja, berpikir dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat," tulisnya.

Zakat, Wakaf Produktif, dan Penguatan UMKM

Islam, menurut Ridho, memberi perhatian besar pada persoalan kesejahteraan. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf menunjukkan bahwa kekayaan tidak semata-mata berdimensi individual, tetapi juga tanggung jawab sosial.

Semangat itu perlu dikembangkan lebih jauh. Membantu orang miskin memang penting, tetapi membuat seseorang mampu keluar dari kemiskinan jauh lebih mendasar. Karena itu, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, penguatan UMKM, wakaf produktif, dan kesempatan yang adil harus menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan kemaslahatan.

Dalam kehidupan sosial, Islam tidak seharusnya membuat seseorang semakin jauh dari manusia lain hanya karena perbedaan latar belakang. Indonesia adalah rumah bersama yang dibangun dari keberagaman, dan nilai rahmatan lil-'alamin dapat menjadi pijakan untuk hidup saling menghormati.

Perbedaan keyakinan, pilihan, dan latar belakang tidak boleh menghilangkan penghormatan terhadap martabat manusia.

Kekuasaan sebagai Amanah, Bukan Sekadar Posisi

Dalam kehidupan politik, Ridho menyoroti nilai amanah sebagai hal yang penting untuk terus diingat. Kekuasaan bukan sekadar posisi, melainkan tanggung jawab.

Karena itu, politik seharusnya tidak hanya berbicara soal siapa yang mendapatkan kekuasaan, tetapi juga untuk apa kekuasaan itu digunakan. Kekuasaan yang berkeadaban harus menghasilkan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat, pelayanan publik yang baik, penegakan hukum, transparansi, dan perlindungan terhadap mereka yang lemah.

Nilai-nilai Islam, tegasnya, semestinya tidak hanya digunakan sebagai simbol dalam ruang politik. Lebih dari itu, nilai Islam harus hadir sebagai etika yang mengendalikan bagaimana kekuasaan digunakan.

Refleksi ini mengajak pembaca melihat keberislaman sebagai jalan hidup yang menyentuh seluruh aspek: ibadah, ilmu, ekonomi, sosial, dan politik. Rahmat yang dibawa Islam baru terasa penuh ketika ia menjelma dalam tindakan nyata yang menyejahterakan dan memuliakan manusia.

Terkini