SINAR24.COM — Keputusan itu diambilnya bukan tanpa alasan. Setelah belasan tahun berhadapan dengan siswa sekolah umum, Sule—sapaan akrabnya—menilai karakter anak-anak di Sekolah Rakyat membutuhkan pendekatan yang jauh berbeda. Mereka bukan sekadar murid yang butuh ruang kelas, melainkan anak-anak yang kehilangan figur pendamping di rumah.
"Rata-rata input siswa kami yang dari Sekolah Rakyat itu memang berasal dari Desil 1 dan 2, artinya rata-rata anak kami itu ada yang sudah putus sekolah," ungkapnya di Malang, Jawa Timur, dikutip dari keterangan tertulis Kementerian Sosial (Kemensos), Jumat (28/8/2026).
Kehadiran yang Dirindukan Siswa
Kehangatan yang ia rasakan di Sekolah Rakyat tidak pernah ia temukan selama mengabdi di sekolah kejuruan. Hal itu tercermin dari pertanyaan sederhana yang kerap dilontarkan para siswa ketika ia tidak masuk bertugas.
"Jadi kalau ketika anak-anak, saya dua hari libur gitu ya, atau ada dinas kemana, itu anak-anak mencari, Pak Sule kemana? Kok tidak kelihatan?" katanya.
Momen-momen kecil semacam itu yang membuat Sule betah bertahan. Ia meyakini mendampingi siswa Sekolah Rakyat tidak cukup hanya dengan aturan dan kedisiplinan, melainkan harus menggunakan hati dan keikhlasan.
Tiga Komitmen Wali Asuh: Waktu, Tenaga, Pikiran
Sule menegaskan ada tiga hal yang menjadi komitmennya dalam mendampingi anak-anak di Sekolah Rakyat. Pertama, waktu untuk membimbing dan mendampingi mereka. Kedua, tenaga untuk membantu kegiatan kerja bakti. Ketiga, pikiran berupa ide-ide yang bisa ditransfer kepada para siswa.
"Sekolah Rakyat itu sungguh luar biasa, karena di situ saya belajar masuk surga. Karena di situ, kita mengajari anak-anak yang memang tidak mampu. Anak-anak yang sudah tidak ada orang tuanya. Anak-anak yang tinggal sama mbah-nya saja. Anak-anak yang hidupnya sebatang kara," tuturnya.
Dari Anak Petani Flores hingga 44 Judul Buku
Perjalanan hidup Sule menjadi motivasi tersendiri bagi para siswanya. Lahir dari keluarga petani di Flores, Nusa Tenggara Timur, ia merantau ke Malang untuk kuliah dengan kondisi serba keterbatasan. Selama hampir empat tahun, ia tinggal menumpang di rumah seorang dosen dan bekerja membantu mencuci piring serta menyiram tanaman demi biaya makan sehari-hari.
"Saya lahir dari keluarga yang enggak mampu, dan bisa sukses, mereka juga harus lebih, mereka harus lebih sukses daripada saya," pesan Sule kepada para siswa.
Dari pengalaman tinggal di rumah dosen itu, Sule belajar banyak hal, termasuk membaca dan menulis. Kini, pria berusia 42 tahun tersebut telah menulis 44 judul buku ber-ISBN dan meraih penghargaan dari Gubernur Jawa Timur pada 2025 sebagai penulis buku terbanyak di provinsi tersebut.
Bekal Menulis dan Konservasi untuk Siswa Sekolah Rakyat
Selain menulis, Sule juga aktif dalam kegiatan konservasi lingkungan melalui inovasi pengolahan limbah sampah. Ia bahkan pernah diundang ke Malaysia dan beberapa negara lain oleh NGO internasional untuk memperkenalkan inovasinya.
Pengalaman tersebut ingin ia bagikan kepada para siswa Sekolah Rakyat. Baginya, tidak ada yang tidak mungkin jika ada kemauan dan niat yang kuat.
"Saya selalu menyampaikan, inilah anak petani. Bisa menulis buku sebanyak itu, bisa sukses," ujarnya.