SINAR24.COM — Banyak orang tua generasi X dan milenial ingin menghadirkan nuansa masa kecil era 90-an kepada anak-anak gen Alpha. Namun, sejumlah kebiasaan lama yang dulu dianggap wajar ternyata berisiko bagi tumbuh kembang anak zaman sekarang. Mulai dari soal pengawasan hingga cara mengelola emosi, ada lima pola yang sebaiknya berhenti di generasi sebelumnya.
Nostalgia era 90-an memang kuat. Zaman sebelum ponsel pintar dan media sosial itu dikenang serba apa adanya, bebas, dan penuh permainan di luar rumah. Tak heran banyak orang tua ingin anaknya merasakan hal serupa.
Masalahnya, tidak semua kebiasaan dari masa itu layak diteruskan. Beberapa pola pengasuhan yang dulu dianggap normal kini diketahui berdampak kurang baik, terutama bagi anak gen Alpha yang tumbuh di dunia digital.
1. "Pulang Sebelum Magrib" sebagai Bentuk Kebebasan
Bermain bebas sampai matahari terbenam terdengar menyenangkan dan seolah membuat anak era 90-an lebih mandiri. Kenyataannya, tidak semua anak punya lingkungan yang aman untuk dibiarkan berkeliaran sendiri.
Membiarkan anak tanpa pengawasan bisa masuk kategori pengabaian. Untuk gen Alpha, kebebasan tetap perlu, tapi harus dibarengi rasa aman, batasan, dan pendampingan yang jelas.
2. Komentar soal Tubuh Dianggap Hal Biasa
Di era 90-an, komentar soal berat badan atau penampilan sering diucapkan keluarga dan guru tanpa rasa bersalah. Kalimat seperti itu terdengar sepele, padahal bisa menempel lama di pikiran anak dan mengikis rasa percaya diri.
Sekarang tekanannya jauh lebih besar. Anak-anak terpapar perbandingan lewat media sosial setiap hari, jadi menambah komentar soal tubuh hanya memperburuk keadaan.
3. Perundungan Dianggap Menguatkan Mental
Dulu, anak yang dirundung sering disuruh "tahan saja" atau "jangan manja". Perundungan diperlakukan seperti proses normal yang harus dilewati semua orang.
Pandangan ini berbahaya. Perundungan bisa meninggalkan luka psikologis panjang yang terbawa sampai dewasa. Di era digital, perundungan bahkan bisa makin intens di ruang maya dan berlangsung tanpa henti.
4. Emosi Harus Dikendalikan, Bukan Dibicarakan
Banyak anak 90-an tumbuh dengan pesan harus kuat, tidak boleh terlalu sedih, dan jangan banyak bicara soal perasaan. Emosi pun dipendam, dan dampaknya baru terasa saat dewasa.
Kini pembicaraan soal kesehatan mental jauh lebih terbuka. Anak perlu tahu bahwa menangis, bercerita, dan meminta bantuan bukan tanda lemah. Justru itu cara sehat mengelola emosi.
Kepada gen Alpha, orang tua bisa mengajarkan keterampilan mengenali dan mengungkapkan perasaan sejak dini agar mereka tumbuh lebih stabil secara mental.
5. Mengabaikan Parental Guide
Di tahun 90-an, banyak orang tua tidak terlalu memperhatikan peringatan pada film, lagu, dan budaya pop lainnya. Anak bisa menonton film dewasa atau menyanyikan lagu dengan lirik yang tidak sesuai usia, termasuk yang berkonotasi seksual.
Saat itu akses informasi memang belum semudah sekarang. Kini lirik lagu bisa dicek daring dalam hitungan detik, dan banyak aplikasi parental control tersedia, bahkan dari platform besar sekalipun.
Yang Perlu Diingat Orang Tua Gen Alpha
Tidak semua yang datang dari masa lalu harus diteruskan. Era 90-an punya sisi indah untuk dikenang, tapi ada juga bagian yang sebaiknya berhenti jadi pola parenting.
Saat membesarkan gen Alpha, orang tua perlu memilah mana yang masih relevan dan mana yang berisiko. Warisan dari generasi pendahulu sebaiknya bukan kebiasaan buruknya, melainkan pelajaran untuk jadi lebih bijak.