AI Jadi Topik Utama Pertemuan Trump-Xi di Washington

Sabtu, 19 September 2026 | 06:00:31 WIB

SINAR24.COM — Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Washington pekan depan dijadwalkan membahas kecerdasan buatan atau AI. Di luar meja resmi, jaringan dialog informal "Track Two" antara akademisi dan think tank kedua negara dilaporkan bergeliat membahas risiko bersama teknologi itu.

Pertemuan tingkat tinggi AS-China itu berlangsung di tengah ketegangan teknologi yang belum mereda. Pemerintahan Trump dalam beberapa pekan terakhir menuduh perusahaan AI China mencuri kekayaan intelektual dengan cara "menyuling" model AI unggulan Amerika Serikat, disertai ancaman sanksi.

Beijing membalas dengan mengecam pembatasan ekspor chip AS. Pemerintah China menuduh Washington menjalankan "buku panduan Perang Dingin" untuk menahan laju industri AI mereka.

Jaringan Diskusi Informal yang Bekerja di Balik Layar

Mantan pejabat dan pakar kebijakan menyebut ada dialog bilateral yang aktif di tingkat sub-nasional. Diplomasi jenis ini dikenal sebagai "Track Two".

Selama puluhan tahun, interaksi antarpemerintah atau "Track One" ditopang jaringan pertemuan privat dan konferensi yang biasanya digelar think tank atau universitas. Pesertanya pakar dari kedua negara, dengan topik mulai dari perlucutan senjata nuklir hingga perubahan iklim.

"Saya pikir tidak ada topik yang lebih penting untuk dibicarakan AS dan China selain AI," kata Sarah Beran, mantan diplomat AS yang menangani China dan presiden terpilih National Committee on U.S.-China Relations.

Komite nirlaba itu menjalankan sejumlah diskusi Track Two dan terlibat dalam pertukaran kebijakan sejak 1972, ketika mensponsori kunjungan pemain ping pong AS ke China untuk mencairkan hubungan.

Ketidakpercayaan Jadi Hambatan Terbesar

Beran menilai AI menjadi topik sulit karena tingkat kepercayaan kedua negara saat ini sangat rendah. "Ketakutan akan titik sumbat, ditahan, dan AI digunakan sebagai pemukul oleh kedua pihak membuat ini juga salah satu area paling sulit untuk dibicarakan," ujarnya.

Gagasan di balik Track Two adalah membangun pemahaman dan mengarah pada rekomendasi kebijakan yang bisa disepakati kedua pihak. Pemerintah kadang memakainya sebagai jalur belakang atau cara berisiko rendah untuk melontarkan gagasan.

Beran mencontohkan situasi setelah komunikasi militer-ke-militer AS-China terputus menyusul kunjungan Ketua DPR saat itu Nancy Pelosi ke Taiwan pada 2022. Saat itu Beran menjabat pejabat tertinggi urusan China di Dewan Keamanan Nasional era pemerintahan Biden.

"Kami melontarkan sejumlah gagasan dalam dialog Track Two soal bagaimana pemulihan komunikasi militer-ke-militer bisa terlihat, pada level apa, apa topiknya. Lalu kami membawanya kembali ke jalur formal dan menegosiasikan pemulihan jalur itu," katanya.

Presiden Biden dan Xi kemudian menyepakati pemulihan dialog militer pada KTT 2023 di Woodside, California.

Kesepakatan Nuklir dan AI sebagai Preseden

Jack Shanahan, pensiunan jenderal Angkatan Udara AS yang terlibat dialog Track Two soal AI militer, menyebut diskusi informal membantu menyiapkan kesepakatan para pemimpin setahun kemudian. Kesepakatan itu menyatakan setiap keputusan penggunaan senjata nuklir harus dikendalikan manusia, bukan AI.

"Itu hanya mungkin terjadi berkat dialog tenang selama bertahun-tahun di tingkat Track Two soal topik ini," kata Shanahan.

Samm Sacks, pakar teknologi China di Johns Hopkins School of Advanced International Studies dan think tank New America, mengaku terlibat dalam beberapa diskusi Track Two soal AI di Shanghai dan Beijing sepanjang musim panas. Menurut dia, diskusi itu "sangat substantif".

"Orang bisa membicarakan isu sensitif lebih terbuka dan tidak merasa perlu mencapai konsensus yang akan dipublikasikan," ujarnya.

Kerapuhan Bersama yang Dipersepsikan Sama

Dialog-dialog itu memperkuat penilaian Sacks bahwa AS dan China punya banyak titik temu soal AI, meski ada gesekan pemerintah soal kontrol ekspor chip dan tuduhan pencurian kekayaan intelektual. "Jadi apa yang saya dengar dalam Track Two yang saya ikuti adalah rasa kerapuhan bersama dan ketidakpastian bersama yang diciptakan AI," katanya.

Shanahan sepakat. Menurut dia, China memandang diri sebagai pihak yang tertinggal, tetapi Shanahan merasakan pergeseran di sisi China seiring teknologi itu berkembang dan risikonya makin jelas.

"Untuk pertama kalinya, saya melihat semacam, 'Dengar, kami tahu kami belum setara di beberapa area, tapi AI terlalu penting untuk tidak memiliki dialog ini'," ujarnya.

Meski begitu, ketegangan di tingkat resmi soal AI tetap tinggi dan kedua pihak cenderung fokus pada kekhawatiran berbeda. AS menyoroti kerentanan siber dan kemungkinan hilangnya kendali atas AI, sementara China memikirkan stabilitas rezim dan kemandirian produksi perangkat keras.

Pakar menilai perbedaan itu memengaruhi corak dialog Track Two dan menahan ekspektasi atas hasil konkret. Center for Strategic and International Studies, think tank kebijakan AS, juga menjalankan Track Two dengan spesialis China di dalamnya.

Terkini