Megaproyek PLTS 100 GWp Resmi Dimulai, Pemerintah Targetkan Harga Listrik 5-6 Sen per kWh

Megaproyek PLTS 100 GWp Resmi Dimulai, Pemerintah Targetkan Harga Listrik 5-6 Sen per kWh
Presiden meresmikan megaproyek PLTS 100 GWp di Kabupaten Jembrana, Bali, pada Rabu (26/8/2026).

JAKARTA — Pemerintah menargetkan pembangunan 100 Giga Watt peak (GWp) Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) rampung dalam tiga tahun ke depan. Proyek ini melibatkan investasi senilai US$ 73 miliar atau setara Rp 1.140 triliun lebih, dengan fokus awal pada 14 proyek strategis berkapasitas total 5.216 Mega Watt peak (MWp) yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Peresmian program ini dilakukan di Kabupaten Jembrana, Bali, pada Rabu (26/8/2026). Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa angka 5-6 sen dolar AS per kWh yang dipaparkan merupakan biaya produksi listrik dari panel surya saja, belum termasuk sistem penyimpanan energi.

Harga Listrik PLTS Belum Termasuk Biaya Baterai

"Dan untuk PLTS-nya saja yang sekarang kita resmikan itu nilainya itu kurang lebih sekitar 5 sampai 6 sen. Namun itu belum termasuk baterai. Nah baterainya itu ditambah lagi," ujar Bahlil dalam laporannya di hadapan Presiden, dikutip Rabu (26/8/2026).

Menteri ESDM itu menjelaskan, penentuan harga final akan sangat dipengaruhi oleh durasi penggunaan baterai untuk menjaga stabilitas jaringan listrik atau base load. Pihaknya terus menghitung agar integrasi antara pembangkit surya dan sistem baterai tetap memiliki nilai keekonomian yang kompetitif bagi pengembang maupun konsumen.

"Nah baterainya tergantung mau 4 jam mau 24 jam itu harganya akan mengikuti tentang lama daripada pemakaian baterai itu. Ini betul Pak Dirut PLN ya? Jangan sampai salah-salah kita di depan Presiden ini soalnya," jelasnya.

Bali Beralih dari PLTD ke Energi Surya 1.000 MW

Khusus untuk wilayah Bali, pengembangan PLTS akan menggantikan peran pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang selama ini digunakan. Langkah ini dinilai krusial untuk mendukung citra Bali sebagai destinasi wisata internasional yang mengedepankan energi hijau.

"Khusus untuk Bali dengan kita memakai 1.000 Mega Watt itu mampu melakukan efisiensi 0,6 juta kiloliter solar yang dilakukan oleh PLN. Selama ini ternyata Bali ini masih pakai PLTD. Jadi tidak heran kemudian kalau ini kita lakukan di Bali Pak karena kampanyenya adalah green energy," ungkapnya.

Serap 5,52 Juta Tenaga Kerja dan Efisiensi Subsidi Rp 73,9 Triliun

Selain mengurangi ketergantungan pada energi fosil, megaproyek ini diproyeksikan mampu menyerap hingga 5,52 juta tenaga kerja. Pemerintah juga menghitung proyek ini bisa melakukan efisiensi terhadap subsidi energi setiap tahunnya hingga Rp 73,9 triliun.

"Dari total pekerjaan ini bisa kita melakukan efisiensi terhadap subsidi setiap tahun 73,9 triliun rupiah. Bisa menciptakan lapangan pekerjaan kurang lebih sekitar 5,52 juta lapangan kerja," papar Bahlil.

Integrasi PLTS untuk Nelayan dan Pesisir

Program ini juga mencakup pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir dan pulau terpencil melalui skema productive use of energy. Di sejumlah lokasi, PLTS akan diintegrasikan dengan fasilitas cold storage, mesin pembuat es, hingga pengisian daya kapal listrik bagi para nelayan setempat.

"Jika mataharinya matahari Indonesia, panel suryanya dibuat oleh jerih payah rakyat Indonesia dan baterai listriknya dihasilkan dari keringat tenaga kerja Indonesia maka energi surya ini adalah energi Indonesia, energi Ibu Pertiwi," tandasnya.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, pembangunan tahap awal difokuskan pada proyek yang masuk dalam daftar siap tender serta proyek yang sudah memasuki tahap konstruksi dan groundbreaking di berbagai wilayah Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index