Ekonomi 8 Persen dan NZE 2060: Hashim Pastikan Target Iklim Tak Hambat Pertumbuhan

Ekonomi 8 Persen dan NZE 2060: Hashim Pastikan Target Iklim Tak Hambat Pertumbuhan
Pemerintah menegaskan target NZE 2060 tetap berjalan paralel dengan ambisi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

SINAR24.COM — Jakarta (ANTARA) - Indonesia menolak skenario yang mempertemukan target iklim dan pertumbuhan ekonomi sebagai pilihan yang saling meniadakan. Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, menegaskan komitmen NZE 2060 tetap berjalan paralel dengan ambisi pertumbuhan ekonomi tinggi.

"Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk net zero pada 2060. Pak Prabowo merasa kita bisa mempercepatnya, tetapi Indonesia tidak ingin melakukan bunuh diri ekonomi," ujar Hashim dalam acara International and Indonesia CCS Forum 2026 di Jakarta, Rabu.

Pernyataan itu sekaligus menjawab kekhawatiran investor asing yang kerap memandang transisi energi sebagai beban fiskal. Indonesia justru menempatkan teknologi sebagai penengah antara kebutuhan energi fosil dan target pengurangan emisi karbon.

CCS/CCUS Jadi Jembatan antara Batu Bara dan Target Iklim

Strategi utama yang ditawarkan pemerintah adalah pemanfaatan teknologi penangkapan karbon. Hashim menyebut carbon capture and storage (CCS) serta carbon capture, utilization, and storage (CCUS) sebagai kunci agar energi fosil tetap berkontribusi terhadap perekonomian tanpa menghambat target NZE.

Teknologi ini dinilai krusial untuk menjaga ketahanan energi nasional. Indonesia masih memiliki cadangan minyak, gas bumi, dan batu bara yang besar, sementara gangguan pasokan energi global akibat konflik dan hambatan jalur perdagangan internasional terus mengintai.

Uji Coba di Petrokimia Gresik Tekan Emisi hingga 95 Persen

Hashim mengungkapkan perkembangan teknologi penangkapan karbon yang tengah diuji melalui kerja sama dengan Jepang di PT Petrokimia Gresik. Teknologi tersebut terbukti mampu mengurangi emisi karbon hingga 95 persen.

Hasil samping dari proses itu berupa produk turunan soda ash atau baking soda. Keberhasilan ini membuka peluang penerapan teknologi serupa pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara.

CO2 Disulap Jadi Bahan Baku Mikroalga untuk Program MBG

Inovasi lain yang berpeluang diterapkan adalah pemanfaatan karbon dioksida (CO2) sebagai bahan baku produksi mikroalga. Hashim menjelaskan teknologi ini mengubah CO2 dari beban industri migas menjadi aset bernilai ekonomi.

Mikroalga dapat diolah menjadi biofuel, pakan ternak, hingga sumber protein. Produk turunan ini diharapkan mendukung kebutuhan pangan nasional dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pemerintah meyakini kombinasi antara pemanfaatan energi fosil dan pengembangan teknologi penangkapan karbon adalah jalan tengah paling realistis. Langkah ini menjaga pasokan energi domestik tetap aman tanpa menghentikan laju pembangunan ekonomi.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index