Gerbang Tol

Mulai 2026, 700 Gerbang Tol Bisa Bayar Tanpa Stop, Ini Syaratnya

Mulai 2026, 700 Gerbang Tol Bisa Bayar Tanpa Stop, Ini Syaratnya
Mulai 2026, 700 Gerbang Tol Bisa Bayar Tanpa Stop, Ini Syaratnya

JAKARTA - Transformasi layanan jalan tol di Indonesia memasuki babak baru pada 2026. Pengguna jalan tol tidak lagi harus berhenti atau melakukan tap kartu di setiap gerbang. 

PT Jasa Marga (Persero) Tbk menargetkan ratusan gerbang tol di berbagai wilayah dapat melayani transaksi nirsentuh dan nirhenti, seiring penguatan teknologi digital di sektor transportasi nasional. Inovasi ini diharapkan memberikan pengalaman berkendara yang lebih lancar, aman, dan efisien bagi masyarakat.

Target ambisius tersebut menjadi bagian dari pengembangan aplikasi Travoy, khususnya melalui fitur Travoy Go, yang memungkinkan kendaraan melintas gerbang tol tanpa harus berhenti sama sekali. Sistem ini menjadi langkah konkret Jasa Marga dalam menjawab tantangan kemacetan sekaligus meningkatkan kenyamanan pengguna jalan tol.

Target 700 Gerbang Tol Tanpa Tap Kartu di 2026

PT Jasa Marga (Persero) Tbk menargetkan sebanyak 700 gerbang tol dapat melayani transaksi tanpa tap kartu pembayaran sepanjang tahun 2026. Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Rivan Achmad Purwantoro, menyampaikan bahwa layanan ini akan memperluas cakupan gerbang tol nirhenti yang saat ini sudah beroperasi, khususnya di wilayah Jakarta.

"Saat ini di Jakarta ada 97 gate nirhenti, di tahun ini akan kita tambahkan 700 gate nirhenti. Jadi nanti ada kombinasi yang sebagian besar adalah tanpa harus tap, cukup lewat dengan kecepatan 20 kilometer per jam sudah bisa melakukan pembukaan secara otomatis dengan menggunakan Travoy Go di dalam aplikasi Travoy ini," kata Rivan.

Dengan sistem tersebut, pengendara cukup melaju perlahan tanpa perlu berhenti atau membuka kaca kendaraan. Gerbang akan terbuka secara otomatis setelah sistem mendeteksi kendaraan yang telah terdaftar dalam aplikasi Travoy.

Travoy Go Didesain untuk Perjalanan Lebih Lancar

Fitur Travoy Go dikembangkan sebagai solusi pembayaran tol berbasis aplikasi yang terintegrasi. Pengguna cukup mendaftarkan kendaraan serta metode pembayaran melalui aplikasi Travoy, sehingga transaksi dapat dilakukan secara otomatis saat melintas gerbang tol.

Menurut Rivan, pengembangan Travoy akan terus dilakukan dengan mengutamakan pengalaman pengguna serta mempertimbangkan berbagai masukan dari masyarakat. Sistem ini diharapkan mampu mengurangi antrean panjang di gerbang tol, terutama saat jam sibuk atau musim libur panjang.

Selain meningkatkan kelancaran lalu lintas, teknologi ini juga dinilai lebih aman karena meminimalkan interaksi fisik dan mengurangi risiko kecelakaan akibat kendaraan berhenti mendadak di gerbang tol.

Fitur Panic Button untuk Kondisi Darurat

Tak hanya fokus pada transaksi pembayaran, Travoy juga dilengkapi berbagai fitur pendukung keselamatan pengguna jalan tol. Salah satu fitur penting yang disematkan adalah panic button, yang dapat digunakan pengendara dalam kondisi darurat.

"Ini adalah untuk memastikan bahwa ketika masyarakat pada saat terjadi satu kejadian khusus, jadi tidak usah panik. Tinggal melakukan panic button otomatis kemudian kami merespons dan kemudian kami akan menggunakan patroli untuk membantu baik-baik sekalian," ujar Rivan.

Melalui fitur ini, pengguna dapat langsung terhubung dengan petugas Jasa Marga. Sistem akan secara otomatis mengirimkan lokasi pengguna sehingga bantuan dapat segera dikerahkan, baik berupa patroli, derek, maupun penanganan darurat lainnya.

Pantau Kepadatan Lalu Lintas Secara Real Time

Travoy juga dirancang sebagai asisten pribadi bagi pengguna jalan tol Jasa Marga Group. Aplikasi ini menyajikan informasi kondisi lalu lintas secara real time dengan tingkat akurasi tinggi, berkat dukungan teknologi radar dan ribuan kamera pemantau.

"Kepadatan jalan ini bukan dilihat dari berapa yang lewat dengan menggunakan ponsel, tapi betul-betul pure dilihat dengan menggunakan radar maupun 3.500 kamera. Jadi validasinya adalah persis saat dilihat secara live," ungkap Rivan.

Dengan sistem tersebut, pengguna dapat mengetahui kondisi ruas tol sebelum dan selama perjalanan, termasuk informasi kepadatan, kecelakaan, maupun gangguan lalu lintas lainnya. Hal ini memungkinkan pengendara mengambil keputusan lebih tepat, seperti memilih jalur alternatif atau menyesuaikan waktu perjalanan.

Layanan Tambahan: Rest Area hingga Bantuan Derek

Selain informasi lalu lintas, Travoy juga menyediakan berbagai informasi pendukung perjalanan. Pengguna dapat menemukan lokasi rest area, Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik (SPKL), hingga titik rawan kecelakaan atau black spot yang rencananya akan diluncurkan menjelang periode Lebaran.

"Nah ini penting bagi para masyarakat agar pada saat melakukan perjalanan untuk memastikan bahwa ketika melewati daerah yang rawan lebih berhati-hati," imbuh Rivan.

Travoy juga memungkinkan pengguna memantau riwayat transaksi tol secara digital tanpa perlu menyimpan bukti fisik. Tak hanya itu, layanan bantuan darurat seperti derek atau towing dapat diajukan langsung melalui aplikasi ketika kendaraan mengalami kendala di jalan tol.

"Ini adalah upaya kami memastikan bahwa seluruh pengguna jalan tol Jasa Marga bisa berkomunikasi, bisa berinteraksi, bisa menggunakan seluruh transaksi dan bisa merasakan bahwa ketika memasuki jalan tol ruas seluruh jasa marga grup ada aplikasi jasa marga yang mendampingi sebagai asisten pribadi," tandas Rivan.

Dengan target 700 gerbang tol tanpa berhenti pada 2026, Jasa Marga menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi digital jalan tol nasional demi perjalanan yang lebih aman, nyaman, dan efisien.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index