SUMATERA UTARA — Proses pemuatan (loading) LNG ke kapal LNG Maleo berkapasitas 126 ribu meter kubik itu berlangsung sekitar 40 hingga 42 jam di area kilang DSLNG, Luwuk, Sulawesi Tengah. Tim Dunia Energi yang meliput langsung menyaksikan kapal bersandar dan melakukan pengisian sebelum akhirnya berlayar menuju Negeri Sakura.
"Kapal LNG Maleo berkapasitas 126 ribu M3 bersandar dan loading sekitar 40 jam akan dibawa LNG ke Futsu," kata Marine Superintendent DSLNG, Doni Rahmadana, di sela-sela proses pengapalan, Senin (17/8).
Pasokan Rutin ke Jepang dan Korsel
Pengiriman ke JERA bukanlah agenda sekali jalan. Doni menjelaskan, interval pengapalan ke konsumen dilakukan setiap sepuluh hari sekali. Selain Jepang, DSLNG juga rutin mengirimkan pasokan ke Korea Selatan serta pasar domestik.
"Interval per 10 hari. Kadang kita bawa ke domestik dan Korea Selatan," ujarnya.
Kilang DSLNG merupakan satu dari tiga fasilitas produksi LNG yang masih aktif beroperasi di Indonesia. Kapasitas produksinya mencapai 2,1 juta ton per tahun (MTPA), dengan kemampuan pengolahan gas bumi sebesar 355 MMscfd.
Porsi Kontrak dan Peran untuk Domestik
Dari total kapasitas produksi tersebut, JERA memegang porsi kontrak terbesar dengan jatah 1 MTPA. Sisanya dialokasikan untuk Kyushu Electric Power Co. Inc sebesar 0,3 MTPA, Kogas asal Korea Selatan 0,7 MTPA, dan sisanya diserap oleh PGN untuk kebutuhan dalam negeri.
Pengapalan yang bertepatan dengan hari kemerdekaan ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pemasok energi penting di kawasan Asia Timur. Di tengah gencarnya transisi energi, permintaan LNG dari Jepang dan Korea Selatan masih menjadi penopang utama penerimaan devisa negara dari sektor migas.